Javan Species Recovery Programme
Sejak 2017 kami mempelajari babi kutil jawa di alam liar, lalu mencari cara agar satwa ini dan petani bisa hidup berdampingan.

Tentang program
Dari survei populasi ke konservasi bersama warga
JaSpeR dimulai dengan tim kecil berisi dua orang yang menyurvei populasi babi kutil jawa (Sus verrucosus). Data populasi spesies ini sangat minim, padahal statusnya terancam punah.
Program berkembang dari survei ke manajemen konflik dengan petani, lalu ke konservasi berbasis masyarakat. Sejak 2024 JaSpeR dilaksanakan oleh Yayasan KARST.
Perjalanan
Lima studi, tujuh tahun
- 12017–2019
Survei populasi di Jawa Barat dan sebagian Jawa Tengah
Population size and hunting offtake of Javan warty pigs (Sus verrucosus) in West Java, Indonesia, with notes on the Sunda pangolin (Manis javanica) and other wildlife species.
Langkah awal memahami status populasi, sebaran, dan tekanan perburuan.
- 22019
Penurunan populasi di Banjar
Current Population Javan Warty Pig (Sus verrucosus) in Banjar, West Java, Indonesia.
Studi penyebab dan tingkat penurunan populasi di Banjar, Jawa Barat.
- 32020
Survei lanjutan di seluruh Pulau Jawa
Pemantauan menyeluruh babi kutil jawa dan spesies terancam lain sebagai dasar strategi jangka panjang.
- 42021–2022
Perlindungan tanaman di Batukaras
Establishing the most effective method to decrease crop raiding by Javan Warty Pig Sus verrucosus (Boie, 1832) in Batukaras, West Java, Indonesia.
Menguji cara paling efektif mengurangi serangan babi kutil ke ladang warga.
- 52022–2024
Konservasi berbasis masyarakat di Batukaras
Community-Based Conservation Program of Javan Warty Pig in Batukaras, Pangandaran, Java, Indonesia.
Warga terlibat langsung dalam pelestarian. Dilaksanakan oleh Yayasan KARST.
Lokasi kerja
Di mana kami bekerja
- Batukaras, PangandaranMitigasi konflik dan konservasi berbasis masyarakat
- Banjar, Jawa BaratSurvei penurunan populasi
- Jawa Barat dan sebagian Jawa TengahSurvei populasi 2017–2019
- Seluruh Pulau JawaSurvei lanjutan 2020
Tantangan
Yang kami hadapi di lapangan
Degradasi habitat
Hutan tergerus aktivitas manusia, diperparah perubahan iklim.
Konflik dengan warga
Babi kutil memakan tanaman di ladang yang berbatasan dengan hutan.
Keterbatasan sumber daya
Dana dan tenaga lapangan untuk survei jangka panjang terbatas.
Kesadaran publik
Spesies ini kurang dikenal dan partisipasi masyarakat masih rendah.
Kerangka hukum
Berstatus Endangered di IUCN, tetapi belum dilindungi hukum Indonesia.
Data yang minim
Populasi akurat baru mulai terkumpul sejak survei JaSpeR.